LAPORAN
KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL)
BOTANI
TUMBUHAN TIDAK BERPEMBULUH
Studi Lapangan Pengamatan FUNGI, LICHENS
dan LUMUT
Di Taman Hutan Raya (TAHURA) R. Soerjo Cangar
Dosen Pembimbing:
Drs.Sulisetitjono,M.Si
Ainun Nikmati Laily,M.si

Oleh :
USWATUN HASANAH (13620001)
DANANG HADI UTOMO (13620002)
MAGHFIRATUL QUDSIYAH (13620003)
DIAN MAYA SARI (13620004)
ISNA AROFATU ZUHROH (13620008)
JURUSAN
BIOLOGI
FAKULTAS
SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hutan hujan tropis menyimpan banyak sekali
kekayaan alam. Salah satu hutan hujan tropis di Indonesia adalah Taman Hutan
Rakyat (TAHURA) R. Soerjo Cangar. Taman Hutan Rakyat R. Soerjo ini terletak di
Desa Sumberbrantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Seperti banyak taman hutan
rakyat lainnya, TAHURA R. Soerjo juga memiliki keunikan, keindahan alam,
vegetasi, satwa yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai obyek dan daya tarik
wisata alam di samping sebagai wahana penelitian, pendidikan, dan pengembangan
ilmu pengetahuan.
Beberapa jenis vegetasi yang mudah sekali ditemukan di
TAHURA R. Soerjo adalah lumut, lichen, dan fungi atau jamur. Istilah jamur berasal dari
bahasa Yunani, yaitu fungus (mushroom) yang berarti tumbuh dengan subur.
Istilah ini selanjutnya ditujukan kepada jamur yang memiliki tubuh buah serta
tumbuh atau muncul di atas tanah atau pepohonan (Hadioetomo,1993).
Lumut kerak merupakan
simbiosis antara jamur dari golongan Ascomycotina atau Basidiomycotina dengan Chlorophyta
atau Cyanobacteria bersel satu (fikobion). Lumut kerak bersifat endolitik
karena dapat masuk pada bagian pinggir batu. Dalam hidupnya lichenes tidak
memerlukan syarat hidup yang tinggi dan tahan terhadap kekurangan air dalam
jangka waktu yang lama. Lichenes yang hidup pada batuan dapat menjadi kering
karena teriknya matahari, tetapi tumbuhan ini tidak mati, dan jika turun hujan
bisa hidup kembali (Indah, 2009 : 41).
Lumut Merupakan
jenis tumbuhan rendah yang beradaptasi dangan linkungan darat dan mempunyai
tingkat perkembangan lebih tinggi dari pada Thalophyta. Pada umumnya tumbuhan
lumut menyukai tempat-tempat lembab dan basah di dataran rendah hingga dataran
tinggi. Lumut merupakan tumbuhan peralihan antara tumbuhan lumut berkormus dan
bertalus. Lumut dapat beradaptasi untuk tumbuh di tanah, belum mempunyai
jaringan pengangkut, sudah memiliki dinding sel yang terdiri dari selulosa
(Birsyam, 1992).
Beragamnya mahkluk hidup yang ada di bumi ini
yang ditunjukkan dengan adanya variasi bentuk, penampilan serta ciri-ciri yang
lainnya, maka mendorong para ilmuan maupun pihak yang mengkaji ilmu Biologi
tertarik untuk menelitinya.
Seperti yang disebutkan di dalam al-Quran surat
As-Syu’araa ayat 7 yang berbunyi:
![]() |
Artinya: “... dan Apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah
banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?” (QS. As-Syu’araa’: 7)
Dari ayat di atas dapat di ketahui bahwa Allah
SWT telah menciptakan bermacam-macam tumbuhan. Baik tumbuhan tingkat tinggi
maupun tumbuhan tingkat rendah, termasuk yang tersebar di seluruh wilayah
Indonesia.
Hal ini didukung oleh iklim TAHURA R. Soerjo
yang berupa hutan hujan tropis sehingga menjadi rumah bagi lumut, lichen, dan
jamur. Kelimpahan vegetasi lumut, lichen,dan fungi di kawasan TAHURA R. Soerjo
inilah yang menjadi alasan utama untuk melakukan Kuliah Kerja Lapangan mengenai
kondisi aktual tingkat keanekaragaman ketiga tumbuhan tersebut. Kuliah Kerja
Lapangan ini juga bertujuan sebagai sarana belajar dengan metode langsung
belajar dari apa yang disediakan oleh alam, mengenal ciri-ciri dan
karakteristik dari lumut, lichen dan jamur.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada Kuliah
Kerja Lapangan (KKL) ini adalah bagaimana marfologi dan siklus hidup/reproduksi
jamur, lichen, dan lumut di Cangar, Batu, Malang?
1.3 Tujuan
Tujuan
pada Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini adalah untuk mengetahui marfologi dan
siklus hidup/reproduksi jamur, lichen, dan lumut di Cangar, Batu, Malang.
1.4 Manfaat
Manfaat yang dapat di ambil dari dilaksanakannya Kuliah
Kerja Lapangan ini adalah sebagai berikut:
1.
Kita bisa mengetahui salah satu
bukti kebesaran-Nya
2.
Mengetahui morfologi dan siklus
hidup atau reproduksi jamur, lichenes, dan lumut yang terdapat di Cangar
BatuMalang
3.
Menambah pengetahuan tentang
jamur, lichenes, dan jamur
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Cangar
Pemandian air panas alami yang disebut dengan “Cangar”
ini, terletak sekitar 18 km dari pusat Kota Batu. Hutan yang hijau, air panas
alami, dan udara pegunungan yang sejuk siap menyambut siapa saja yang singgah
ke tempat ini. Perjalanan ke lokasi wisata inipun merupakan sebuah perjalanan
yang menyenangkan, karena meskipun harus melewati jalan sejauh 10 km dari
Junggo yang berkelok-kelok dan agak sempit, keindahan pemandangan di sepanjang
perjalanan akan membuat anda tidak merasakan jauhnya jarak yang harus ditempuh (Ekawatia Edawva, 2007).
Sumber mata air panas yang berasal dari Gunung Welirang
ini bersuhu sekitar 30 sampai dengan 40 derajat celcius. Aroma belerang juga
masih tercium meskipun tidak begitu pekat. Menurut kepercayaan masyarakat
setempat, air belerang ini sangat baik untuk menyembuhkan aneka macam penyakit
kulit. Dulu air panas ini ditampung dalam sebuah kolam yang dipagari seadanya
karena tempat ini belum begitu terkenal, namun sekarang, tiga kolam renang
besar siap menanti anda yang ingin berendam sambil bermain-main dengan air
hangat. Ruang untuk berganti pakaian juga sudah tersedia meskipun jumlahnya
tidak banyak (Ekawatia Edawva, 2007).
Taman Hutan
Raya (TAHURA) R. Soeryo di Cangar merupakan salah satu kawasan hutan yang
potensial untuk habitat dari keanekaragaman tumbuhan lumut. Topografi TAHURA
R.Soeryo secara keseluruhan memiliki konfigurasi bervariasi antara datar,
berbukit dan gunung-gunung dengan ketinggian antara 1.000-3.000 meter diatas
permukaan laut. TAHURA R.Soeryo termasuk tipe C dan D dengan curah hujan
rata-rata 2.500-4.500 mm per tahun menurut klasifikasi iklim Schmid dan
Ferguson. Suhu udara berkisar antara 5ºC-10ºC. Pertumbuhan lumut didukung
dengan habitat yang lembab, sedangkan di daerah pemandian air panas habitat
lumut di dominasi dengan suhu panas. Jenis tumbuhan perintis berpengaruh
terhadap sebagian besar sifat-sifat fisik, kimia dan biologi tanah
(Prawito, 2009). Di sekitar mata air panas Cangar banyak ditemukan gua-gua
buatan masa pendudukan Jepang pada tahun 1942-1945 (Dwi, 2000)
2.2 Jamur
Jamur dalam beberapa
pustaka masih dimasukkan dalam dunia tumbuhan, yakni Thallophyta, akan tetapi
tidak mempunyai klorofil, sehingga untuk hidupnya memerlukan sumber bahan
organik. Dinding selnya kebanyakan mengandung zat khitin, yang terdiri dari
rangkayan molekul N-acetylglocosamina. Perkembangan belakangan ini seperti yang
telah di kemukakan oleh Alexopoulos dan mims (1979) di beri kerajaan sendiri
dan di pisahkan dengan tumbuhan dengan nama Myceteae. (Sastrahidayat, 2010).
Pada hutan cangar ini fungi di temukan di lantai hutan
dan di kayu tanaman yang telah lapuk. Menurut (Campbell, 2012) fungi tidak
hanya beraneka ragam dan tersebar luas, namun juga penting bagi kemakmuran
sebagian besar ekosistem terrestrial. Mereka memecah materi organik dan mendaur
ulang nutrient, memungkinkan organisme lain untuk mengasimilasi unsur-unsur
kimia yang esensial. Manusia memperoleh keuntungan dari jasa fungi pada
pertanian dan kehutanan seperti peran pentingnya dalam membuat berbagai produk
mulai dari roti hingga antibiotik. Namun benar pula adanya bahwa beberapa fungi
menyebabkan penyakit pada tumbuhan dan hewan.
Tidak hanya di lantai hutan, fungi juga terdapat pada
akar pohon, dikenal juga dengan sebutan fungi mikoriza. Menurut (Campbell,
2012) beberapa fungi memiliki hifa terspesialisasi yang memungkinkan mereka
menyerap makanan pada tubuh hewan hidup. Spesies-spesies fungi yang lain memiliki
hifa terspesialisasi yang di sebut Haustoria, yang digunakan oleh fungi untuk
mengekstraksi nutrient dari atau bertukar nurien dengan inangnya. Hubungan yang
saling menguntungkan antara fungi dan akar tumbuhan disebut mikoriza
(Mycorhyzae) istilah yang berarti akar.
Fungi yang hidup di
darat dapat menghasilkan spora yang terbentuk di bawah sel-sel khusus (askus),
jadi merupakan endospore, ada yang di luar basidium, di sebut aksospora.
Disamping itu jamur dapat membiak aseksual dengan konidium (Tjitrosoepomo,
2009).
Peranan Fungi dalam Kehidupan sebagai berikut
(Campbell, 2012):
a. Fungi Sebagai Dekomposer
Fungi teradaptasi sebagai decomposer yang baik material organic,
termasuk selulosa dan lignin dari dinding sel tumbuhan. Hamper semua substrat
yang mengandung karbon bahkan bahan bakar zet dan cat rumah-dapat di konsumsi
oleh beberapa jenis fungi. Selain itu, fungi dan bakteri terutama bertanggung
jawab untuk mejaga ekosistem agar tetap memiliki persediaan nutrient anorganik
yang esensial bagi pertumbuhan tumbuhan.
b. Fungi Sebagai Mutualis
Fungi dapat membentuk
hubungan mutualistic dengan tumbuhan, Alga, sianobakteri dan hewan. Semua
hubungan ini memiliki efek ekologis yang besar.
c. Mutualisme Fungi
Tumbuhan
Selain dari fungi mikoriza, simbiotik
antara fungi dan tumbuhan yaitu endofit (endhophyte) simbiotik, fungi
yang hidup di dalam daun atau bagian tumbuhan yang lain tanpa menyebabkan
kerugian. Para saintis telah menunjukkan bahwa endofit menguntungkan
rumput-rumputan tertentu dan tumbuhan tak berkayuyang lain dengan membuat
toksin yang mengusir herbivore atau meningakatkan toleransi tumbuhan inang
terhadap panas, kekeringan atau logam berat.
d. Simbiosis Fungi-Hewan
d. Simbiosis Fungi-Hewan
Beberapa fungi berjasa dalam membantu
pencernaan hewan, dengan menguraikan material tumbuhan di dalam saluran
pencernaan sapi dan mamalia pemamah baik lainnnya. Banyak sepesies semut
mengambil keuntungan dari daya disgestif fungi dengan mengembangbiakkannya di
dalam pertanian. Semut pemotong daun misalnya menelusuri hutan tropis untuk
mencari dedaunan, yang tidak adapt di cerna sendiri namun dedaunan itu di bawa
pulang ke sarangnya dan di berikan ke fungi sebagai pakannya. ketika fungi
tumbuh, hifanya mengembangkan ujung-ujung mengembung yang terspesialisasi yang
kaya akan protein dan karbohidrat. Semut memakan ujung-ujung hifa yang kaya
akan nutrient ini. Akibatnya, fungi menguraikan daun tumbuhan menjadi zat-zat
yang dapat di cerna oleh serangga, dan mereka juga mendetoksifikasi senyawa
pertahanan tumbuhan yang dapat membunuh atau membahayakan semut.
Selain menguntungkan, sekitar 30% dari 100.000 spesies fungi yang telah
di ketahui hidup sebagai parasite atau pathogen, terutama pada tumbuhan.
Misalnya Cryphonectria parasitia, fungi askomisetes yang menyebabkan
hawar chestnut. Beberapa fungi yang menyerang tanaman pangan juga
bersifat toksik bagi manusia, misalnya beberapa spesies tertentu dari kapang
askomisetes, Aspergillus mengkontaminasi padi-padian dan kacang-kacangan
yang tidak disimpan dengan baik (Campbell, 2012).
2.3 Lichens
Menurut (Sastrahidayat,
2010) liken merupakan jamur yang bersimbiosis dengan alga, dengan jumlah
sepesies lebih dari 16.000 spesies yang telah diketahui. Mereka menduduki niche
ekologi dan telah merupakan kelompok yang terpisah. Liken biasanya mempunyai
patner jamur Ascomycetes atau basidiolichenes. Sedangkan menurut
(Tjitrosoepomo, 2009) Organisme ini sebenarnya kumpulan antara fungi dan alga,
tetapi sedemikian rupa hingga dari segi morfologi dan fisiologi merupakan satu
kesatuan
Menurut (Suhono, 2012)
Liken tumbuh dengan cepat pada bebatuan, tanah, pohon, atau setruktur
artifisial apapun. Mereka dapat hidup di kondisi ekstrim. Pada hutan taman
wisata cangar, liken dapat di temukan menempel di batu dan pohon. Bentuk liken
yang di temukan berfariasi, ada yang menempel pada batang pohon secara merata,
ada yang membentuk seperti lembaran dan ada yang berbentuk seperti
benang-benang yang menjulur pada dahan.
Liken di kelompokkan
berdasarkan bentuk hidupnya yaitu ada tiga kelompok diantaranya crustose,
foliose, dan fruticose. Namun, ketiga bentuk ini tidak dapat dijadikan dasar
taksonomi liken, karena liken yang tergolong satu suku atau bahkan satu marga
dapat berbentuk crustose, foliose, dan fruticose. Banyak ahli liken menambahkan
satu bentuk lagi yaitu squamulose. Sistem pengklasifikasian liken masuk dalam
system klasifikasi fungi. juga mengemukakan Liken merupakan organisme yang
sensitif terhadap kerusakan lingkungan sehingga berpotensi digunakan sebagai
bioindikator atau biomonitor dari kestabilan suatu ekosistem (Suhono, 2012).
2.3 Lumut (Bryophyta)
Lumut
Merupakan jenis tumbuhan rendah yang beradaptasi dangan linkungan darat dan
mempunyai tingkay perkembangan lebih tinggi dari pada Thalophyta. Pada umumnya
tumbuhan lumut menyukai tempat-tempat lembab dan basah di dataran rendah hingga
dataran tinggi. Tumbuhan lumut berwarna hijau karena mempunyai sel-sel dengan
plastida yang menghasilkan klorofil a dan b. lumut bersifat autotrof. Lumut
merupakan tumbuhan peralihan antara tumbuhan lumut berkormus dan bertalus.
Lumut dapat beradaptasi untuk tumbuh di tanah, belum mempunyai jaringan
pengangkut, sudah memiliki dinding sel yang terdiri dari selulosa (Birsyam,
1992).
Batang
dan daun tegak memiliki susunan berbeda-beda. Batang apabila dilihat secara
melintang akan tampak susunan sebagai berikut selapis sel kulit, lapisan kulit
dalam (korteks), silinder pusat yang terdiri sel-sel parenkimatik yang
memanjang untuk mengangkut air dan garam-garam mineral; belum terdapat floem
dan xilem. Sel-sel daunnya kecil, sempit, panjang, dan mengandung kloroplas
yang tersusun seperti jala. Lumut hanya dapat tumbuh memanjang tetapi tidak
membesar, karena tidak ada sel berdinding sekunder yang berfungsi sebagai
jaringan penyokong. Rizoid seperti benang sebagai akar untuk melekat pada
tempat tumbuhnya dan menyerap garam-garam mineral (Birsyam, 1992).
Struktur
sporofit (sporogonium) tubuh lumut terdiri dari: vaginula, seta, apofisis,
kaliptra, kolumela. Sporofit tumbuh pada gametofit menyerupai daun. Gametofit
berbentuk seperti daun dan di bagian bawahnya terdapat rizoid yang berfungsi
seperti akar. Jika sporofit tidak memproduksi spora, gametofit akan membentuk
anteridium dan arkegonium untuk melakukan reproduksi seksual (Yulianto, 1992).
Reproduksi
lumut bergantian antara fase seksual dan aseksual melalui pergiliran keturunan
atau metagenesis. Reproduksi aseksual dengan spora haploid yang dibentuk dalam
sporofit. Reproduksi seksualnya dengan membentuk gamet-gamet dalam gametofit.
Ada dua macam gametangium yaitu arkegonium (gametangium betina) bentuknya
seperti botol dengan bagian lebar yang disebut perut, yang sempit disebut leher
dan anteridium (gametangium jantan) berbentuk bulat seperti gada. Jika
anteridium dan arkegonium dalam satu individu tumbuhan lumut disebut berumah
satu (monoesis). Jika dalam satu individu hanya terdapat anteridium atau
arkegonium saja tumbuhan lumut disebut berumah dua (diesis) (Yulianto, 1992).
Lumut
yang sudah teridentifikasi mempunyai jumlah sekitar 16 ribu spesies dan telah
dikelompokkan menjadi 3 kelas yaitu: lumut hati, lumut tanduk dan lumut daun
(Yulianto, 1992).
1. Lumut Hati (Hepaticopsida)
Lumut hati tubuhnya berbentuk lembaran, menempel di
atas permukaan tanah, pohon atau tebing. Terdapat rizoid berfungsi untuk
menempel dan menyerap zat-zat makanan. Tidak memiliki batang dan daun.
Reproduksi secara vegetatif dengan membentuk gemma (kuncup), secara generatif
dengan membentuk gamet jantan dan betina. Contohnya: Ricciocarpus, Marchantia
dan lunularia.
2. Lumut Tanduk
(Anthoceratopsida)
Bentuk tubuhnya seperti lumut hati yaitu berupa
talus, tetapi sporofitnya berupa kapsul memanjang. Sel lumut tanduk hanya
mempunyai satu kloroplas. Hidup di tepi sungai, danau, atau sepanjang selokan.
Reproduksi seperti lumut hati. Contohnya Anthocerros sp.
3. Lumut Daun (Bryopsida)
Lumut daun juga disebut lumut sejati. Bentuk
tubuhnya berupa tumbuhan kecil dengan bagian seperti akar (rizoid), batang dan
daun. Reproduksi vegetatif dengan membentuk kuncup pada cabang-cabang batang.
Kuncup akan membentuk lumut baru. Contoh: Spagnum fibriatum, Spagnum squarosum.
Manfaat
lumut bagi kehidupan antara lain: Marchantia polymorpha untuk mengobati
penyakit hepatitis, Spagnum sebagai pembalut atau pengganti kapass, jika
Spagnum ditambahkan ke tanah dapat menyerap air dan menjaga kelembaban tanah
(Yulianto, 1992).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Waktu dan Tempat
Kuliah Kerja
Lapangan (KKL) tentang “Jamur, lichen, dan lumut” ini dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 9 Nopember
2014 pada pukul 6.30 sampai 17.00 WIB yang bertempat di daerah kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) R.Soeryo
Cangar Batu Malang.
3.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang
digunakan sebagai penunjang dalam studi lapangan ini adalah:
1. Alat tulis 1
buah
2. Alat dokumentasi (kamera digital dan handycam) 1 buah
3. Kantong plastik 1 buah
4. Buku identifikasi 1 buah
3.3 Cara Kerja
Langkah-langlah kerja
pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Dicari lichen, lumut
(bryophyta), dan jamur (fungi) dengan menusuri jalan di kawasan Taman Hutan
Raya (Tahura) R.Soeryo Cangar Batu Malang.
2.
Diambil gambar
lichen, lumut (bryophyta), dan jamur (fungi) dengan kamera digital/Hp pada setiap spesies yang ditemukan.
3.
Dimasukkan hasil
temuan ke dalam kantong plastik (cuma beberapa saja, demi menjaga kelestarian).
4.
Setelah sampai di
kampus, dilakukan pengamatan dan dicatat ciri-cirinya secara kelompok.
5.
Dibedakan berdasarkan
spesies masing-masing, diklasifikasi kemudian dideskripsikan.
6.
Dibagi setiap
kelompok untuk dibahas di dalam laporan hasil studi lapangan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Setelah dilakukan studi lapangan di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura)
R.Soeryo Cangar Batu Malang oleh mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas Sains dan
Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, maka dari
sekian banyak spesies lichen, lumut (bryophyta), dan jamur (fungi) yang
ditemukan dibagi kepada masing-masing kelompok. Sehingga dalam hal ini, hanya
dibahas dari hasil pembagian saat identifikasi. Adapun spesies yang akan
dibahas adalah sebagai berikut:
4.1 Jamur (Ganoderma sp.)
4.1.1 Gambar Hasil Pengamatan
|
Gambar
Pengamatan
|
Gambar
Literatur
|
![]() |
![]() |
4.1.2 Pembahasan
A. Klasifikasi
Klasifikasi jamur kayu (Ganoderma sp.) menurut Birsyam (1992)
adalah sebagai berikut:
Kingdom:
Fungi
Filum: Basidiomycota
Kelas : Agaricomycetes
Ordo : Polyporales
Family: Ganodermataceae
Genus
: Ganoderma
Spesies : Ganoderma sp.
B. Deskripsi
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di TAHURA cangar,
didapatkan spesies jamur yaitu Ganoderma
sp. dengan ciri-ciri pinggiran berwarna cokelat muda, semakin
ketengah coklat tua, berbentuk setengah lingkaran dan agak cekung seperti
kipas, talusnya bertumpuk tumpuk antara satu sama lain, tekstur talusnya
bersifat kayu, menempel pada kayu kayu yang sudah mati dan lapuk. bagian bawah
tempat melekatnya miselium disebut volva, bagian tengah misellium, dan
bagian yang pinggir disebut cap.
Menurut Setyawan (2000), menyatakan bahwa tubuh buah jamur kayu
berbentuk seperti kipas, himenofor membentuk pori-pori, dari luar tampak
berlubang-lubang. Sisi dalam lubang-lubang itu dilapisi himenium. Tubuh buah
dapat berumur beberapa tahun, setiap kali membentuk lapisan himenofor baru.
Umumnya hidup sebagai saprofit.
Jamur kayu bentuknya seperti sinduk atau alat untuk mengambil sayur.
Jenis jamur ini memiliki tangkai yang menancap ke dalam media atau substrat
dengan ukuran panjang antara 3-10 cm. Di ujung tangkai terdapat tubuh buah
berbentuk seperti setengah lingkaran yang melebar dengan garis tengah antara
10-20 cm. Tubuh buah mula-mula berwarna kekuning-kuningan saat masih muda,
yaitu pada umur 1-2 bulan, kemudian berubah menjadi merah atau cokelat tua.
Tubuh buah inilah yang kemudian dipanen untuk dijadikan bahan baku pembuat
obat-obatan jamu (Tambunan, 1989).
Suranto (2002) menyatakan manfaat jamur kayu untuk kesehatan dan
kebugaran tubuh antara lain memelihara dan meningkatkan daya tahan tubuh
terhadap gangguan penyakit, menjaga dan mempertahankan vitalitas tubuh
sehingga tetap sehat dan segar, meningkatkan dan memelihara metabolisme di dalam
tubuh, memperkuat kerja jantung, memelihara dan meningkatkan gairah seksual,
menurunkan kandungan kanker atau tumor akibat senyawa karsinogen.
Lingzhi dapat tumbuh pada pohon-pohon yang tua dan lapuk, atau pohon
yang telah mati. Berbentuk seperti payung tidak sempurna, bertangkai relatif
pendek dibandingkan dengan tubuh buah (payung)-nya yang berdiameter hingga 30
cm. Bentuk payungnya setengah lingkaran mirip ginjal, dengan ketebalan
bervariasi antara 2-5 cm. Kandungan utama lingzhi adalah protein, polisakarida
(ganodelan A, ganodelan B, dan beberapa jenis glukans), triterpenoid (asam
ganodermik, ganodermadiol, dan 110 macam lainnya) yang strukturnya mirip hormon
steroid, juga germanium, ergosterol, coumarin, mannitol, alkaloid, asam lemak
tak jenuh, adenosin, dan berbagai vitamin (B, C, D) serta mineral (natrium, kalsium,
seng, besi, fosfor)(Gunawan, 2000).
Pertimbangan konservasi: pemantauan kualitas udara penting bagi
konservasi ini dan spesies Usnea lainnya, banyak yang sensitif (Mc Cune &
Geiser 2009, USDA Forest Service, tidak ada tanggal). Situs yang diketahui
harus dipantau, dan tindakan yang diambil untuk menjaga kualitas udara yang
baik di situs tersebut. Berat off-road lalu lintas kendaraan di dekat populasi
bisa memancarkan cukup sulfur dioksida untuk merusak lichen ini.
4.2 Lichen (Usnea rubicunda)
4.2.1 Gambar Hasil Pengamatan
|
Gambar Pengamatan
|
Gambar Literatur
|
![]() |
(Brodo, 2011)
|
4.2.2 Pembahasan
A. Klasifikasi
Klasifikasi Usnea robicunda
sebagai berikut:
Kingdom: fungi
Divisi: Ascomycota
Kelas: Lecanoromycetes
Ordo: Lecanorales
Famili: Parmeliaceae
Spesies: Usnea robicunda
B. Deskripsi
Pengamatan yang telah dilakukan menunjukkan, pada lokasi
pengamatan di Cangar di dapatkan spesies yang bercirikan : Hidup pada pohon
inang tetapi tidak merugikan, Daun seperti daun cemara berwarna putih
keabu-abuan, Tubuh Berupa Aposedium. Spesies ini di temukan pada
ketinggian 1000 sampai 3000 mdpl. Faktor tumbuh dari spesies lichens ini adalah
lembab, beraroma belerang, suhu dingin, udara belum tercemar. Bagian – bagian
yang terlihat adalah thallus, dan rhizoid, dengan morfologi talus berwarna
kuning kemerahan, dengan talus sebagian
besar kemerahan dan soralia keputihan bantalan isidomorphs. Liken ini mempunyai
holdfast yang berguna sebagai tempat melekatkan tubuhnya kepada substrat
biasanya berupa kayu. Bentuknya membentuk suatu rumpun yang menyerupai akar,
berwarna hijau, dan bercabang-cabang dengan percabangan yang tidah
teratur.Spesies ini biasanya menempel pada kayu-kayu di pegunungan.
Fruktosa merupakan lumut
dengan daun seperti daun perdu.Ujung batang kecil, berbentuk benang, dan tumbuh
tegak atau menggelantung.Batang thallus berbentuk bulat atau persegi, rata atau
berbatang seperti serabut, serta masir atau berkutil.Kulit berbentuk seperti
tanduk, mudah terbelah, terbentuk dari hypen yang teratur dan berdinding tipis.
Liken ini termasuk dalam jenis frutikose karena thallusnya berupa semak dan memiliki
banyak cabang dengan bentuk seperti pita. Thallus tumbuh tegak atau menggantung
pada batu, daun-daunan atau cabang pohon. Tidak terdapat perbedaan antara
permukaan atas dan bawah.Contoh : Usnea, Ramalina dan Cladonia (Birsyam, 1992).
Riwayat hidup Usnea rubicunda jarang didokumentasikan. Perkembangbiakkannya
diduga oleh isidiomorphs, soredia dan fragmentasi. Sebuah spesies yang berbeda
dari pendek fruticose Usnea di Willamette Valley tumbuh pada tingkat sekitar
2mm per tahun (Batu 1986).
Habitat Usnea adalah pada kulit pohon dan semak-semak di sepanjang
pantai. Ancaman hidup dari Usnea adalah merupakan spesies epifit Usnea sensitif
terhadap polusi. Usnea rubicunda telah dikatakan punah di Belgia, Luksemburg
dan Perancis utara (Diederich et al. 2009). Ancaman lain adalah api di habitat
pesisir, penebangan dan pembangunan perumahan atau perkotaan.
4.3 Lumut (Marchantia polimorpha)
4.2.1 Gambar Hasil Pengamatan
|
Gambar Pengamatan
|
Gambar Literatur
|
![]() |
![]() |
A. Klasifikasi
Klasifikasi Marchantia polimorpha menurut Plantamor (2012), yaitu:
Kingdom: Plantae
Divisi: Marchantiophyta
Kelas:
Marchantiopsida
Ordo:
Marchantiales
Famili:
Marchantiaceae
Genus: Marchantia
Spesies: Marchantia polymorpha
B. Deskripsi
Pengamatan pertama
yang kami lakukan adalah terhadap salah satu spesies lumut hati
(hepaticopsida), yaitu Marchantia polymorpha. Berdasarkan pengamatan
tersebut diketahui bahwa lumut ini memiliki ciri-ciri antara lain talusnya
berbentuk seperti bentuk dasar hati yang terbelah menjadi dua. Talusnya
memiliki panjang sekitar 5 cm dan lebar 2 cm. Warna lumut ini hijau, namun
beberapa yang tampak telah dewasa berwarna kecoklatan. Spesies yang kami
temukan adalah betina karena terlihat dari torehnya yang dalam.
Menurut literatur
(Abdurrahman, 2006), Marchantia polymorpha adalah tumbuhan yang tersebar
luas pada ngarai yang lembab dan ternaung. Beberapa hasil pengamatan
menyatakan bahwa tumbuhan ini sering tumbuh di daerah-daerah rusak akibat
terbakar, terutama di daerah lembab. Lumut hati berbentuk lembaran daun
dan tumbuh menempel di atas permukaan tanah. Permukaan atas tubuhnya
berwarna hijau dan mengkilap, sedangkan permukaan bawah penuh dengan
rhizoid yang berfungsi untuk menempel dan mengisap zat-zat makanan.
Tumbuhan ini tidak mempunyai daun dan batang. Jadi, tubuhnya berbentuk
thallus.
Permukaan thallusnya
terdiri dari lempengan yang berbentuk intan, yang menunjukkan posisi
ruang-ruang udara internal. Suatu irisan melalui thallus menunjukkan ruang
udara di bagian atas yang dilindungi epidermis. Setiap ruang berhubungan
dengan udara luar melalui pori yang menyerupai cerobong analog dengan
stroma. Dari dasar ruang udara ini muncul rantai-rantai sel yang berisikan
banyak sekali kloroplas. Bagian pangkal thallusnya terdiri dari sel-sel
memadat yang biasanya mengandung butir-butir pati (Birsyam,2004).
Bagian penampang
melintang tubuh sebagai berikut (Birsyam,2004) :
1.
Bagian paling atas adalah sel-sel epedermis yang dilindungi
oleh kutikula. Di bawah epidermis terdapat sel-sel yang mengandung
klorofil. Susunan selnya tidak rapat sehingga tampak adanya rongga antar.
2. Bagian paling bawah
adalah epidermis bawah. Sebagian dinding selnya menonjol membentuk benang
yang di sebut rhizoid.
Perkembangbiakannya
dapat secara vegetatif maupun generatif. Reproduksi vegetatif dengan membentuk
gemma atau kuncup. Gemma ini tumbuh pada struktur yang seperti yang
disebut cupule atau kupula pada thallus bagian atas. Kupula berbentuk
mangkuk dan gemmanya sangat kecil berbentuk lensa yang menempel pada
tangkai pendek di dasar kupula. Gemma dapat terlepas bebas oleh air hujan
dan bilamana gemma melekat pada bagian pipih di tanah, maka dari bagian
bawahnya keluar rhizoid, lalu thallus yang baru akan berkembang
(Indrian,1997).
Reproduksi
generatif terjadi dengan membentuk gamet. Dari thallus yang berbentuk
lembaran daun, organ anteridium dan arkegonium mencuat ke atas. Bentuk
arkegonium seperti payung yang memiliki lekuk-lekuk pada
tepinya, sedangkan anteridium seperti payung yang tepinya rata
(Dewi,2006). Anteridium merupakan organ kelamin jantan yang menghasilkan sperma
dan arkegonium merupakan organ kelamin betina yang menghasilkan ovum.
Sperma yang masuk berenang dalam air untuk mencapai ovum sehingga
terjadi fertilisasi, dan menghasilkan zigot, akan tumbuh untuk menjadi
thallus baru. Anteridium mempunyai tangkai yang disebut anteridiofor dan
tangkai arkegonium disebut arkegoniofor (Dewi,2006)
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan pada KKL ini adalah
Berikut marfologi dan siklus hidup/reproduksi jamur, lichen, dan lumut di
Cangar, Batu, Malang,yaitu:
a. Jamur
Beberapa karakteristik umum dari jamur yaitu: jamur
merupakan organisme yang tidak memiliki klorofil sehingga cara hidupnya sebagai
parasit atau saprofit. Tubuh terdiri dari benang yang bercabang-cabang disebut hifa, kumpulan
hifa disebut miselium, berkembang biak secara aseksual dan seksual. Reproduksi secara aseksual
dapat terjadi dengan beberapa cara yaitu dengan fragmentasi miselium,
pembelahan (fission) dari sel-sel somatik menjadi sel-sel anakan. Tunas (budding)
dari sel-sel somatik atau spora, tiap tunas membentuk individu baru,
pembentukan spora aseksual, tiap spora akan berkecambah membentuk hifa yang
selanjutnya berkembang menjadi miselium
b. Lichens
Tubuh lichenes dinamakan
thalus yang secara
vegetative mempunyai kemiripan dengan alga dan
jamur. Thalus ini berwarna
abu-abu atau abu-abu
kehijauan. Beberapa spesies ada yang berwarna kuning, oranye, coklat
atau merah dengan habitat yang bervariasi. Bagian tubuh yang
memanjang secara seluler
dinamakan hifa. Hifa merupakan organ vegetative dari thalus atau
miselium yang biasanya tidak dikenal pada jamur yang bukan lichenes. Alga
selalu berada pada bagian permukaan dari thalus. Perkembangbiakan lichenes melalui dua
cara, yaitu vegetatifdan seksual
c.
Lumut
Batang dan daun tegak memiliki susunan
berbeda-beda. Batang apabila dilihat secara melintang akan tampak susunan
sebagai berikut selapis sel kulit, lapisan kulit dalam (korteks), silinder
pusat yang terdiri sel-sel parenkimatik yang memanjang untuk mengangkut air dan
garam-garam mineral; belum terdapat floem dan xilem. Sel-sel daunnya kecil,
sempit, panjang, dan mengandung kloroplas yang tersusun seperti jala. Lumut
hanya dapat tumbuh memanjang tetapi tidak membesar, karena tidak ada sel
berdinding sekunder yang berfungsi sebagai jaringan penyokong. Rizoid seperti
benang sebagai akar untuk melekat pada tempat tumbuhnya dan menyerap
garam-garam mineral
Reproduksi lumut bergantian antara fase seksual dan
aseksual melalui pergiliran keturunan atau metagenesis. Reproduksi aseksual
dengan spora haploid yang dibentuk dalam sporofit. Reproduksi seksualnya dengan
membentuk gamet-gamet dalam gametofit.
5.2 Saran
Untuk KKL selanjutnya diharapkan lebih telilti lagi
dalam mencari jamur, lichen maupun lumut. supaya kita lebih tau akan
keanekaragaman dari tumbuhan tingkat rendah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Birsyam,
Inge L. 1992. Botani Tumbuhan Rendah. Bandung: ITB.
Campbell, Neil A.2012. Biologi Jilid 2 Edisi Kelima.
Jakarta: Erlangga.
Cabrera
C (1996): Materia Medica - Usnea spp. Ear J Herbal Med2: 11-13
Dwi,Ahmad. 2000. Petunjuk Praktikum Taksonomi
Tumbuhan (Criptogamae). Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Indah, Najmi. 2009.Taksonomi Tumbuhan Tingkat Rendah.Jember :PGRI Jember
Jati,
Wijaya. 2007. Biologi. Jakarta: Balai pustaka
Margasatwa Lambusango, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara.
Jurnal Biodiversitas, vol : 8 no 3, hal : 197-203. Bidang Botani, Pusat
Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong.
Prawirohartono, Slamet. 1989. Biologi.
Jakarta: Erlangga
Sastrahidayat, I. R. 2010. MIKOLOGI Ilmu Jamur.
Malang: UB Press.
Semple,
J. C. 1999. An Introduction to Fungi, Algae, Plants,2thedition, Pearson Custom Publising.
Suhono, B. 2012. ENSIKLOPEDIA
BIOLOGI DUNIA TUMBUHAN RUNJUNG DAN JAMUR. Jakarta: Lentera Abadi.
Tjitrosoepomo, G.
1989. Taksonomi Tumbuhan.
Yogyakarta: Gadjah Mada
Tjitrosoepomo, G. 2009. TAKSONOMI TUMBUHAN Schizophyta,
Thallophyta, Bryophyta, Pteridophyta. Yogyakarta: UGM Press.
Yurnaliza. 2002. Lichenes
(Karakteristik, Klasifikasi Dan Kegunaan). Jurusan Biologi Fakultas Matematika
Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara
Prawirohartono, Slamet. 1989. Biologi. Jakarta: Erlangga
University Press.






