Rabu, 12 November 2014



LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL)
BOTANI TUMBUHAN TIDAK BERPEMBULUH

Studi Lapangan Pengamatan FUNGI, LICHENS dan LUMUT
 Di Taman Hutan Raya (TAHURA) R. Soerjo Cangar

Dosen Pembimbing:
Drs.Sulisetitjono,M.Si
Ainun Nikmati Laily,M.si



Oleh :
 USWATUN HASANAH             (13620001)
DANANG HADI UTOMO          (13620002)
MAGHFIRATUL QUDSIYAH  (13620003)
DIAN MAYA SARI                     (13620004)
ISNA AROFATU ZUHROH      (13620008)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hutan hujan tropis menyimpan banyak sekali kekayaan alam. Salah satu hutan hujan tropis di Indonesia adalah Taman Hutan Rakyat (TAHURA) R. Soerjo Cangar. Taman Hutan Rakyat R. Soerjo ini terletak di Desa Sumberbrantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Seperti banyak taman hutan rakyat lainnya, TAHURA R. Soerjo juga memiliki keunikan, keindahan alam, vegetasi, satwa yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai obyek dan daya tarik wisata alam di samping sebagai wahana penelitian, pendidikan, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Beberapa jenis vegetasi yang mudah sekali ditemukan di TAHURA R. Soerjo adalah lumut, lichen, dan fungi atau jamur. Istilah jamur berasal dari bahasa Yunani, yaitu fungus (mushroom) yang berarti tumbuh dengan subur. Istilah ini selanjutnya ditujukan kepada jamur yang memiliki tubuh buah serta tumbuh atau muncul di atas tanah atau pepohonan (Hadioetomo,1993).
Lumut kerak merupakan simbiosis antara jamur dari golongan Ascomycotina atau Basidiomycotina dengan Chlorophyta atau Cyanobacteria bersel satu (fikobion). Lumut kerak bersifat endolitik karena dapat masuk pada bagian pinggir batu. Dalam hidupnya lichenes tidak memerlukan syarat hidup yang tinggi dan tahan terhadap kekurangan air dalam jangka waktu yang lama. Lichenes yang hidup pada batuan dapat menjadi kering karena teriknya matahari, tetapi tumbuhan ini tidak mati, dan jika turun hujan bisa hidup kembali (Indah, 2009 : 41).
Lumut Merupakan jenis tumbuhan rendah yang beradaptasi dangan linkungan darat dan mempunyai tingkat perkembangan lebih tinggi dari pada Thalophyta. Pada umumnya tumbuhan lumut menyukai tempat-tempat lembab dan basah di dataran rendah hingga dataran tinggi. Lumut merupakan tumbuhan peralihan antara tumbuhan lumut berkormus dan bertalus. Lumut dapat beradaptasi untuk tumbuh di tanah, belum mempunyai jaringan pengangkut, sudah memiliki dinding sel yang terdiri dari selulosa (Birsyam, 1992).

Beragamnya mahkluk hidup yang ada di bumi ini yang ditunjukkan dengan adanya variasi bentuk, penampilan serta ciri-ciri yang lainnya, maka mendorong para ilmuan maupun pihak yang mengkaji ilmu Biologi tertarik untuk menelitinya.
          Seperti yang disebutkan di dalam al-Quran surat As-Syu’araa ayat 7 yang berbunyi:


http://www3.pmo.gov.my/WebNotesApp/RqrMainm.nsf/268685aaa7f9d1af48256d6a0009eb6c/52740620b36283ac482566cd003251b1/RqrKaligrafi/0.70?OpenElement&FieldElemFormat=gif
 






Artinya: “... dan Apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?” (QS. As-Syu’araa’: 7)
Dari ayat di atas dapat di ketahui bahwa Allah SWT telah menciptakan bermacam-macam tumbuhan. Baik tumbuhan tingkat tinggi maupun tumbuhan tingkat rendah, termasuk yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Hal ini didukung oleh iklim TAHURA R. Soerjo yang berupa hutan hujan tropis sehingga menjadi rumah bagi lumut, lichen, dan jamur. Kelimpahan vegetasi lumut, lichen,dan fungi di kawasan TAHURA R. Soerjo inilah yang menjadi alasan utama untuk melakukan Kuliah Kerja Lapangan mengenai kondisi aktual tingkat keanekaragaman ketiga tumbuhan tersebut. Kuliah Kerja Lapangan ini juga bertujuan sebagai sarana belajar dengan metode langsung belajar dari apa yang disediakan oleh alam, mengenal ciri-ciri dan karakteristik dari lumut, lichen dan jamur.
1.2 Rumusan Masalah
            Rumusan masalah pada Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini adalah bagaimana marfologi dan siklus hidup/reproduksi jamur, lichen, dan lumut di Cangar, Batu, Malang?
1.3 Tujuan
            Tujuan pada Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini adalah untuk mengetahui marfologi dan siklus hidup/reproduksi jamur, lichen, dan lumut di Cangar, Batu, Malang.
1.4 Manfaat
Manfaat yang dapat di ambil dari dilaksanakannya Kuliah Kerja Lapangan ini adalah sebagai berikut:
1.      Kita bisa mengetahui salah satu bukti kebesaran-Nya
2.      Mengetahui morfologi dan siklus hidup atau reproduksi jamur, lichenes, dan lumut yang terdapat di Cangar BatuMalang
3.      Menambah pengetahuan tentang jamur, lichenes, dan jamur






















BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Cangar
Pemandian air panas alami yang disebut dengan “Cangar” ini, terletak sekitar 18 km dari pusat Kota Batu. Hutan yang hijau, air panas alami, dan udara pegunungan yang sejuk siap menyambut siapa saja yang singgah ke tempat ini. Perjalanan ke lokasi wisata inipun merupakan sebuah perjalanan yang menyenangkan, karena meskipun harus melewati jalan sejauh 10 km dari Junggo yang berkelok-kelok dan agak sempit, keindahan pemandangan di sepanjang perjalanan akan membuat anda tidak merasakan jauhnya jarak yang harus ditempuh (Ekawatia Edawva, 2007).
Sumber mata air panas yang berasal dari Gunung Welirang ini bersuhu sekitar 30 sampai dengan 40 derajat celcius. Aroma belerang juga masih tercium meskipun tidak begitu pekat. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, air belerang ini sangat baik untuk menyembuhkan aneka macam penyakit kulit. Dulu air panas ini ditampung dalam sebuah kolam yang dipagari seadanya karena tempat ini belum begitu terkenal, namun sekarang, tiga kolam renang besar siap menanti anda yang ingin berendam sambil bermain-main dengan air hangat. Ruang untuk berganti pakaian juga sudah tersedia meskipun jumlahnya tidak banyak (Ekawatia Edawva, 2007).
Taman Hutan Raya (TAHURA) R. Soeryo di Cangar merupakan salah satu kawasan hutan yang potensial untuk habitat dari keanekaragaman tumbuhan lumut. Topografi TAHURA R.Soeryo secara keseluruhan memiliki konfigurasi bervariasi antara datar, berbukit dan gunung-gunung dengan ketinggian antara 1.000-3.000 meter diatas permukaan laut. TAHURA R.Soeryo termasuk tipe C dan D dengan curah hujan rata-rata 2.500-4.500 mm per tahun menurut klasifikasi iklim Schmid dan Ferguson. Suhu udara berkisar antara 5ºC-10ºC. Pertumbuhan lumut didukung dengan habitat yang lembab, sedangkan di daerah pemandian air panas habitat lumut di dominasi dengan suhu panas. Jenis tumbuhan perintis berpengaruh terhadap sebagian  besar sifat-sifat fisik, kimia dan biologi tanah (Prawito, 2009). Di sekitar mata air panas Cangar banyak ditemukan gua-gua buatan masa pendudukan Jepang pada tahun 1942-1945 (Dwi, 2000)
2.2 Jamur
            Jamur dalam beberapa pustaka masih dimasukkan dalam dunia tumbuhan, yakni Thallophyta, akan tetapi tidak mempunyai klorofil, sehingga untuk hidupnya memerlukan sumber bahan organik. Dinding selnya kebanyakan mengandung zat khitin, yang terdiri dari rangkayan molekul N-acetylglocosamina. Perkembangan belakangan ini seperti yang telah di kemukakan oleh Alexopoulos dan mims (1979) di beri kerajaan sendiri dan di pisahkan dengan tumbuhan dengan nama Myceteae. (Sastrahidayat, 2010).
Pada hutan cangar ini fungi di temukan di lantai hutan dan di kayu tanaman yang telah lapuk. Menurut (Campbell, 2012) fungi tidak hanya beraneka ragam dan tersebar luas, namun juga penting bagi kemakmuran sebagian besar ekosistem terrestrial. Mereka memecah materi organik dan mendaur ulang nutrient, memungkinkan organisme lain untuk mengasimilasi unsur-unsur kimia yang esensial. Manusia memperoleh keuntungan dari jasa fungi pada pertanian dan kehutanan seperti peran pentingnya dalam membuat berbagai produk mulai dari roti hingga antibiotik. Namun benar pula adanya bahwa beberapa fungi menyebabkan penyakit pada tumbuhan dan hewan.
Tidak hanya di lantai hutan, fungi juga terdapat pada akar pohon, dikenal juga dengan sebutan fungi mikoriza. Menurut (Campbell, 2012) beberapa fungi memiliki hifa terspesialisasi yang memungkinkan mereka menyerap makanan pada tubuh hewan hidup. Spesies-spesies fungi yang lain memiliki hifa terspesialisasi yang di sebut Haustoria, yang digunakan oleh fungi untuk mengekstraksi nutrient dari atau bertukar nurien dengan inangnya. Hubungan yang saling menguntungkan antara fungi dan akar tumbuhan disebut mikoriza (Mycorhyzae) istilah yang berarti akar.
            Fungi yang hidup di darat dapat menghasilkan spora yang terbentuk di bawah sel-sel khusus (askus), jadi merupakan endospore, ada yang di luar basidium, di sebut aksospora. Disamping itu jamur dapat membiak aseksual dengan konidium (Tjitrosoepomo, 2009).
Peranan Fungi dalam Kehidupan sebagai berikut (Campbell,  2012):
a.    Fungi Sebagai Dekomposer
Fungi teradaptasi sebagai decomposer yang baik material organic, termasuk selulosa dan lignin dari dinding sel tumbuhan. Hamper semua substrat yang mengandung karbon bahkan bahan bakar zet dan cat rumah-dapat di konsumsi oleh beberapa jenis fungi. Selain itu, fungi dan bakteri terutama bertanggung jawab untuk mejaga ekosistem agar tetap memiliki persediaan nutrient anorganik yang esensial bagi pertumbuhan tumbuhan.
b. Fungi Sebagai Mutualis
        Fungi dapat membentuk hubungan mutualistic dengan tumbuhan, Alga, sianobakteri dan hewan. Semua hubungan ini memiliki efek ekologis yang besar.
c. Mutualisme Fungi Tumbuhan
      Selain dari fungi mikoriza, simbiotik antara fungi dan tumbuhan yaitu endofit (endhophyte) simbiotik, fungi yang hidup di dalam daun atau bagian tumbuhan yang lain tanpa menyebabkan kerugian. Para saintis telah menunjukkan bahwa endofit menguntungkan rumput-rumputan tertentu dan tumbuhan tak berkayuyang lain dengan membuat toksin yang mengusir herbivore atau meningakatkan toleransi tumbuhan inang terhadap panas, kekeringan atau logam berat.
d. Simbiosis Fungi-Hewan
      Beberapa fungi berjasa dalam membantu pencernaan hewan, dengan menguraikan material tumbuhan di dalam saluran pencernaan sapi dan mamalia pemamah baik lainnnya. Banyak sepesies semut mengambil keuntungan dari daya disgestif fungi dengan mengembangbiakkannya di dalam pertanian. Semut pemotong daun misalnya menelusuri hutan tropis untuk mencari dedaunan, yang tidak adapt di cerna sendiri namun dedaunan itu di bawa pulang ke sarangnya dan di berikan ke fungi sebagai pakannya. ketika fungi tumbuh, hifanya mengembangkan ujung-ujung mengembung yang terspesialisasi yang kaya akan protein dan karbohidrat. Semut memakan ujung-ujung hifa yang kaya akan nutrient ini. Akibatnya, fungi menguraikan daun tumbuhan menjadi zat-zat yang dapat di cerna oleh serangga, dan mereka juga mendetoksifikasi senyawa pertahanan tumbuhan yang dapat membunuh atau membahayakan semut.
Selain menguntungkan, sekitar 30% dari 100.000 spesies fungi yang telah di ketahui hidup sebagai parasite atau pathogen, terutama pada tumbuhan. Misalnya Cryphonectria parasitia, fungi askomisetes yang menyebabkan hawar chestnut. Beberapa fungi yang menyerang tanaman pangan juga bersifat toksik bagi manusia, misalnya beberapa spesies tertentu dari kapang askomisetes, Aspergillus mengkontaminasi padi-padian dan kacang-kacangan yang tidak disimpan dengan baik (Campbell, 2012).
2.3 Lichens
            Menurut (Sastrahidayat, 2010) liken merupakan jamur yang bersimbiosis dengan alga, dengan jumlah sepesies lebih dari 16.000 spesies yang telah diketahui. Mereka menduduki niche ekologi dan telah merupakan kelompok yang terpisah. Liken biasanya mempunyai patner jamur Ascomycetes atau basidiolichenes. Sedangkan menurut (Tjitrosoepomo, 2009) Organisme ini sebenarnya kumpulan antara fungi dan alga, tetapi sedemikian rupa hingga dari segi morfologi dan fisiologi merupakan satu kesatuan
            Menurut (Suhono, 2012) Liken tumbuh dengan cepat pada bebatuan, tanah, pohon, atau setruktur artifisial apapun. Mereka dapat hidup di kondisi ekstrim. Pada hutan taman wisata cangar, liken dapat di temukan menempel di batu dan pohon. Bentuk liken yang di temukan berfariasi, ada yang menempel pada batang pohon secara merata, ada yang membentuk seperti lembaran dan ada yang berbentuk seperti benang-benang yang menjulur pada dahan.
            Liken di kelompokkan berdasarkan bentuk hidupnya yaitu ada tiga kelompok diantaranya crustose, foliose, dan fruticose. Namun, ketiga bentuk ini tidak dapat dijadikan dasar taksonomi liken, karena liken yang tergolong satu suku atau bahkan satu marga dapat berbentuk crustose, foliose, dan fruticose. Banyak ahli liken menambahkan satu bentuk lagi yaitu squamulose. Sistem pengklasifikasian liken masuk dalam system klasifikasi fungi. juga mengemukakan Liken merupakan organisme yang sensitif terhadap kerusakan lingkungan sehingga berpotensi digunakan sebagai bioindikator atau biomonitor dari kestabilan suatu ekosistem  (Suhono, 2012).

2.3 Lumut (Bryophyta)

Lumut Merupakan jenis tumbuhan rendah yang beradaptasi dangan linkungan darat dan mempunyai tingkay perkembangan lebih tinggi dari pada Thalophyta. Pada umumnya tumbuhan lumut menyukai tempat-tempat lembab dan basah di dataran rendah hingga dataran tinggi. Tumbuhan lumut berwarna hijau karena mempunyai sel-sel dengan plastida yang menghasilkan klorofil a dan b. lumut bersifat autotrof. Lumut merupakan tumbuhan peralihan antara tumbuhan lumut berkormus dan bertalus. Lumut dapat beradaptasi untuk tumbuh di tanah, belum mempunyai jaringan pengangkut, sudah memiliki dinding sel yang terdiri dari selulosa (Birsyam, 1992).
Batang dan daun tegak memiliki susunan berbeda-beda. Batang apabila dilihat secara melintang akan tampak susunan sebagai berikut selapis sel kulit, lapisan kulit dalam (korteks), silinder pusat yang terdiri sel-sel parenkimatik yang memanjang untuk mengangkut air dan garam-garam mineral; belum terdapat floem dan xilem. Sel-sel daunnya kecil, sempit, panjang, dan mengandung kloroplas yang tersusun seperti jala. Lumut hanya dapat tumbuh memanjang tetapi tidak membesar, karena tidak ada sel berdinding sekunder yang berfungsi sebagai jaringan penyokong. Rizoid seperti benang sebagai akar untuk melekat pada tempat tumbuhnya dan menyerap garam-garam mineral (Birsyam, 1992).
Struktur sporofit (sporogonium) tubuh lumut terdiri dari: vaginula, seta, apofisis, kaliptra, kolumela. Sporofit tumbuh pada gametofit menyerupai daun. Gametofit berbentuk seperti daun dan di bagian bawahnya terdapat rizoid yang berfungsi seperti akar. Jika sporofit tidak memproduksi spora, gametofit akan membentuk anteridium dan arkegonium untuk melakukan reproduksi seksual (Yulianto, 1992).
Reproduksi lumut bergantian antara fase seksual dan aseksual melalui pergiliran keturunan atau metagenesis. Reproduksi aseksual dengan spora haploid yang dibentuk dalam sporofit. Reproduksi seksualnya dengan membentuk gamet-gamet dalam gametofit. Ada dua macam gametangium yaitu arkegonium (gametangium betina) bentuknya seperti botol dengan bagian lebar yang disebut perut, yang sempit disebut leher dan anteridium (gametangium jantan) berbentuk bulat seperti gada. Jika anteridium dan arkegonium dalam satu individu tumbuhan lumut disebut berumah satu (monoesis). Jika dalam satu individu hanya terdapat anteridium atau arkegonium saja tumbuhan lumut disebut berumah dua (diesis) (Yulianto, 1992).
Lumut yang sudah teridentifikasi mempunyai jumlah sekitar 16 ribu spesies dan telah dikelompokkan menjadi 3 kelas yaitu: lumut hati, lumut tanduk dan lumut daun (Yulianto, 1992).
1.      Lumut Hati (Hepaticopsida)
Lumut hati tubuhnya berbentuk lembaran, menempel di atas permukaan tanah, pohon atau tebing. Terdapat rizoid berfungsi untuk menempel dan menyerap zat-zat makanan. Tidak memiliki batang dan daun. Reproduksi secara vegetatif dengan membentuk gemma (kuncup), secara generatif dengan membentuk gamet jantan dan betina. Contohnya: Ricciocarpus, Marchantia dan lunularia.
2.      Lumut Tanduk (Anthoceratopsida)
Bentuk tubuhnya seperti lumut hati yaitu berupa talus, tetapi sporofitnya berupa kapsul memanjang. Sel lumut tanduk hanya mempunyai satu kloroplas. Hidup di tepi sungai, danau, atau sepanjang selokan. Reproduksi seperti lumut hati. Contohnya Anthocerros sp.
3.      Lumut Daun (Bryopsida)
Lumut daun juga disebut lumut sejati. Bentuk tubuhnya berupa tumbuhan kecil dengan bagian seperti akar (rizoid), batang dan daun. Reproduksi vegetatif dengan membentuk kuncup pada cabang-cabang batang. Kuncup akan membentuk lumut baru. Contoh: Spagnum fibriatum, Spagnum squarosum.
Manfaat lumut bagi kehidupan antara lain: Marchantia polymorpha untuk mengobati penyakit hepatitis, Spagnum sebagai pembalut atau pengganti kapass, jika Spagnum ditambahkan ke tanah dapat menyerap air dan menjaga kelembaban tanah (Yulianto, 1992).








BAB III
METODE PENELITIAN

3.1    Waktu dan Tempat
Kuliah Kerja Lapangan (KKL) tentang “Jamur, lichen, dan lumut” ini dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 9 Nopember 2014 pada pukul 6.30 sampai 17.00 WIB yang bertempat di daerah kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) R.Soeryo Cangar Batu Malang.
3.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan sebagai penunjang dalam studi lapangan ini adalah:
1.    Alat tulis                                                                          1 buah                                                                               
2.    Alat dokumentasi (kamera digital dan handycam)          1 buah
3.    Kantong plastik                                                                1 buah
4.    Buku identifikasi                                                             1 buah
3.3 Cara Kerja
Langkah-langlah kerja pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.        Dicari lichen, lumut (bryophyta), dan jamur (fungi) dengan menusuri jalan di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) R.Soeryo Cangar Batu Malang.
2.         Diambil gambar lichen, lumut (bryophyta), dan jamur (fungi) dengan kamera digital/Hp pada setiap spesies yang ditemukan.
3.        Dimasukkan hasil temuan ke dalam kantong plastik (cuma beberapa saja, demi menjaga kelestarian).
4.        Setelah sampai di kampus, dilakukan pengamatan dan dicatat ciri-cirinya secara kelompok.
5.        Dibedakan berdasarkan spesies masing-masing, diklasifikasi kemudian dideskripsikan.
6.        Dibagi setiap kelompok untuk dibahas di dalam laporan hasil studi lapangan.




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Setelah dilakukan studi lapangan di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) R.Soeryo Cangar Batu Malang oleh mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, maka dari sekian banyak spesies lichen, lumut (bryophyta), dan jamur (fungi) yang ditemukan dibagi kepada masing-masing kelompok. Sehingga dalam hal ini, hanya dibahas dari hasil pembagian saat identifikasi. Adapun spesies yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
4.1 Jamur (Ganoderma sp.)
4.1.1 Gambar Hasil Pengamatan

Gambar Pengamatan
Gambar Literatur

4.1.2 Pembahasan
A. Klasifikasi
            Klasifikasi jamur kayu (Ganoderma sp.) menurut Birsyam (1992) adalah sebagai berikut:
Kingdom: Fungi
      Filum: Basidiomycota
            Kelas : Agaricomycetes
                  Ordo : Polyporales
                        Family: Ganodermataceae
      Genus : Ganoderma
Spesies : Ganoderma sp.

B. Deskripsi
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di TAHURA cangar, didapatkan spesies jamur yaitu Ganoderma sp. dengan  ciri-ciri pinggiran berwarna cokelat muda, semakin ketengah coklat tua, berbentuk setengah lingkaran dan agak cekung seperti kipas, talusnya bertumpuk tumpuk antara satu sama lain, tekstur talusnya bersifat kayu, menempel pada kayu kayu yang sudah mati dan lapuk. bagian bawah tempat melekatnya miselium disebut volva, bagian tengah misellium, dan  bagian yang pinggir disebut cap.
Menurut Setyawan (2000), menyatakan bahwa tubuh buah jamur kayu berbentuk seperti kipas, himenofor membentuk pori-pori, dari luar tampak berlubang-lubang. Sisi dalam lubang-lubang itu dilapisi himenium. Tubuh buah dapat berumur beberapa tahun, setiap kali membentuk lapisan himenofor baru. Umumnya hidup sebagai saprofit.
Jamur kayu bentuknya seperti sinduk atau alat untuk mengambil sayur. Jenis jamur ini memiliki tangkai yang menancap ke dalam media atau substrat dengan ukuran panjang antara 3-10 cm. Di ujung tangkai terdapat tubuh buah berbentuk seperti setengah lingkaran yang melebar dengan garis tengah antara 10-20 cm. Tubuh buah mula-mula berwarna kekuning-kuningan saat masih muda, yaitu pada umur 1-2 bulan, kemudian berubah menjadi merah atau cokelat tua. Tubuh buah inilah yang kemudian dipanen untuk dijadikan bahan baku pembuat obat-obatan jamu (Tambunan, 1989).
Suranto (2002) menyatakan manfaat jamur kayu untuk kesehatan dan kebugaran tubuh antara lain memelihara dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap gangguan penyakit, menjaga dan mempertahankan  vitalitas tubuh sehingga tetap sehat dan segar, meningkatkan dan memelihara metabolisme di dalam tubuh, memperkuat kerja jantung, memelihara dan meningkatkan gairah seksual, menurunkan kandungan kanker atau tumor  akibat senyawa karsinogen.
Lingzhi dapat tumbuh pada pohon-pohon yang tua dan lapuk, atau pohon yang telah mati. Berbentuk seperti payung tidak sempurna, bertangkai relatif pendek dibandingkan dengan tubuh buah (payung)-nya yang berdiameter hingga 30 cm. Bentuk payungnya setengah lingkaran mirip ginjal, dengan ketebalan bervariasi antara 2-5 cm.  Kandungan utama lingzhi adalah protein, polisakarida (ganodelan A, ganodelan B, dan beberapa jenis glukans), triterpenoid (asam ganodermik, ganodermadiol, dan 110 macam lainnya) yang strukturnya mirip hormon steroid, juga germanium, ergosterol, coumarin, mannitol, alkaloid, asam lemak tak jenuh, adenosin, dan berbagai vitamin (B, C, D) serta mineral (natrium, kalsium, seng, besi, fosfor)(Gunawan, 2000).
Pertimbangan konservasi: pemantauan kualitas udara penting bagi konservasi ini dan spesies Usnea lainnya, banyak yang sensitif (Mc Cune & Geiser 2009, USDA Forest Service, tidak ada tanggal). Situs yang diketahui harus dipantau, dan tindakan yang diambil untuk menjaga kualitas udara yang baik di situs tersebut. Berat off-road lalu lintas kendaraan di dekat populasi bisa memancarkan cukup sulfur dioksida untuk merusak lichen ini.
4.2 Lichen (Usnea rubicunda)
4.2.1 Gambar Hasil Pengamatan
Gambar Pengamatan
Gambar Literatur
        











(Brodo, 2011)
4.2.2 Pembahasan
A. Klasifikasi
            Klasifikasi Usnea robicunda sebagai berikut:
Kingdom: fungi
      Divisi: Ascomycota
            Kelas: Lecanoromycetes
                  Ordo: Lecanorales
                        Famili: Parmeliaceae
                              Spesies: Usnea robicunda
B. Deskripsi
Pengamatan yang telah dilakukan menunjukkan,  pada lokasi pengamatan di Cangar di dapatkan spesies yang bercirikan : Hidup pada pohon inang tetapi tidak merugikan, Daun seperti daun cemara berwarna putih keabu-abuan, Tubuh Berupa Aposedium. Spesies ini di temukan pada ketinggian 1000 sampai 3000 mdpl. Faktor tumbuh dari spesies lichens ini adalah lembab, beraroma belerang, suhu dingin, udara belum tercemar. Bagian – bagian yang terlihat adalah thallus, dan rhizoid, dengan morfologi talus berwarna kuning kemerahan,  dengan talus sebagian besar kemerahan dan soralia keputihan bantalan isidomorphs. Liken ini mempunyai holdfast yang berguna sebagai tempat melekatkan tubuhnya kepada substrat biasanya berupa kayu. Bentuknya membentuk suatu rumpun yang menyerupai akar, berwarna hijau, dan bercabang-cabang dengan percabangan yang tidah teratur.Spesies ini biasanya menempel pada kayu-kayu di pegunungan. 
Fruktosa merupakan lumut dengan daun seperti daun perdu.Ujung batang kecil, berbentuk benang, dan tumbuh tegak atau menggelantung.Batang thallus berbentuk bulat atau persegi, rata atau berbatang seperti serabut, serta masir atau berkutil.Kulit berbentuk seperti tanduk, mudah terbelah, terbentuk dari hypen yang teratur dan berdinding tipis. Liken ini termasuk dalam jenis frutikose karena thallusnya berupa semak dan memiliki banyak cabang dengan bentuk seperti pita. Thallus tumbuh tegak atau menggantung pada batu, daun-daunan atau cabang pohon. Tidak terdapat perbedaan antara permukaan atas dan bawah.Contoh : Usnea, Ramalina dan Cladonia (Birsyam, 1992).
Riwayat hidup Usnea rubicunda jarang didokumentasikan. Perkembangbiakkannya diduga oleh isidiomorphs, soredia dan fragmentasi. Sebuah spesies yang berbeda dari pendek fruticose Usnea di Willamette Valley tumbuh pada tingkat sekitar 2mm per tahun (Batu 1986).
Habitat Usnea adalah pada kulit pohon dan semak-semak di sepanjang pantai. Ancaman hidup dari Usnea adalah merupakan spesies epifit Usnea sensitif terhadap polusi. Usnea rubicunda telah dikatakan punah di Belgia, Luksemburg dan Perancis utara (Diederich et al. 2009). Ancaman lain adalah api di habitat pesisir, penebangan dan pembangunan perumahan atau perkotaan.


4.3 Lumut (Marchantia polimorpha)
4.2.1 Gambar Hasil Pengamatan
Gambar Pengamatan
Gambar Literatur

4.3.2 Pembahasan
A. Klasifikasi
Klasifikasi Marchantia polimorpha menurut Plantamor (2012), yaitu:
Kingdom: Plantae
       Divisi: Marchantiophyta 
             Kelas: Marchantiopsida
                    Ordo: Marchantiales
                           Famili: Marchantiaceae
                                  Genus: Marchantia
                                         Spesies: Marchantia polymorpha                                      
B. Deskripsi
Pengamatan pertama yang kami lakukan adalah terhadap salah satu spesies lumut hati (hepaticopsida), yaitu Marchantia polymorpha. Berdasarkan pengamatan tersebut diketahui bahwa lumut ini memiliki ciri-ciri antara lain talusnya berbentuk seperti bentuk dasar hati yang terbelah menjadi dua. Talusnya memiliki panjang sekitar 5 cm dan lebar 2 cm. Warna lumut ini hijau, namun beberapa yang tampak telah dewasa berwarna kecoklatan. Spesies yang kami temukan adalah betina karena terlihat dari torehnya yang dalam.
Menurut literatur (Abdurrahman, 2006), Marchantia polymorpha adalah tumbuhan yang tersebar luas pada ngarai yang lembab dan ternaung. Beberapa hasil pengamatan menyatakan bahwa tumbuhan ini sering tumbuh di daerah-daerah rusak akibat terbakar, terutama di daerah lembab. Lumut hati berbentuk lembaran daun dan tumbuh menempel di atas permukaan tanah. Permukaan atas tubuhnya berwarna hijau dan mengkilap, sedangkan permukaan bawah penuh dengan rhizoid yang berfungsi untuk menempel dan mengisap zat-zat makanan. Tumbuhan ini tidak mempunyai daun dan batang. Jadi, tubuhnya berbentuk thallus.
Permukaan thallusnya terdiri dari lempengan yang berbentuk intan, yang menunjukkan posisi ruang-ruang udara internal. Suatu irisan melalui thallus menunjukkan ruang udara di bagian atas yang dilindungi epidermis. Setiap ruang berhubungan dengan udara luar melalui pori yang menyerupai cerobong analog dengan stroma. Dari dasar ruang udara ini muncul rantai-rantai sel yang berisikan banyak sekali kloroplas. Bagian pangkal thallusnya terdiri dari sel-sel memadat yang biasanya mengandung butir-butir pati (Birsyam,2004).
Bagian penampang melintang tubuh sebagai berikut (Birsyam,2004) :
1.    Bagian paling atas adalah sel-sel epedermis yang dilindungi oleh kutikula. Di bawah epidermis terdapat sel-sel yang mengandung klorofil. Susunan selnya tidak rapat sehingga tampak adanya rongga antar.
2.    Bagian paling bawah adalah epidermis bawah. Sebagian dinding selnya menonjol membentuk benang yang di sebut rhizoid.
Perkembangbiakannya dapat secara vegetatif maupun generatif. Reproduksi vegetatif dengan membentuk gemma atau kuncup. Gemma ini tumbuh pada struktur yang seperti yang disebut cupule atau kupula pada thallus bagian atas. Kupula berbentuk mangkuk dan gemmanya sangat kecil berbentuk lensa yang menempel pada tangkai pendek di dasar kupula. Gemma dapat terlepas bebas oleh air hujan dan bilamana gemma melekat pada bagian pipih di tanah, maka dari bagian bawahnya keluar rhizoid, lalu thallus yang baru akan berkembang (Indrian,1997).
Reproduksi generatif terjadi dengan membentuk gamet. Dari thallus yang berbentuk lembaran daun, organ anteridium dan arkegonium mencuat ke atas. Bentuk arkegonium seperti payung yang memiliki lekuk-lekuk pada tepinya, sedangkan anteridium seperti payung yang tepinya rata (Dewi,2006). Anteridium merupakan organ kelamin jantan yang menghasilkan sperma dan arkegonium merupakan organ kelamin betina yang menghasilkan ovum. Sperma yang masuk berenang dalam air untuk mencapai ovum sehingga terjadi fertilisasi, dan menghasilkan zigot, akan tumbuh untuk menjadi thallus baru. Anteridium mempunyai tangkai yang disebut anteridiofor dan tangkai arkegonium disebut arkegoniofor (Dewi,2006)






























BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan pada KKL ini adalah Berikut marfologi dan siklus hidup/reproduksi jamur, lichen, dan lumut di Cangar, Batu, Malang,yaitu:
a.    Jamur
Beberapa karakteristik umum dari jamur yaitu: jamur merupakan organisme yang tidak memiliki klorofil sehingga cara hidupnya sebagai parasit atau saprofit. Tubuh terdiri dari benang yang bercabang-cabang disebut hifa, kumpulan hifa disebut miselium, berkembang biak secara aseksual dan seksual.   Reproduksi secara aseksual dapat terjadi dengan beberapa cara yaitu dengan fragmentasi miselium, pembelahan (fission) dari sel-sel somatik menjadi sel-sel anakan. Tunas (budding) dari sel-sel somatik atau spora, tiap tunas membentuk individu baru, pembentukan spora aseksual, tiap spora akan berkecambah membentuk hifa yang selanjutnya berkembang menjadi miselium
b.   Lichens
Tubuh  lichenes  dinamakan  thalus  yang  secara  vegetative  mempunyai  kemiripan dengan  alga dan  jamur. Thalus ini  berwarna abu-abu  atau  abu-abu  kehijauan. Beberapa spesies ada yang berwarna kuning, oranye, coklat atau merah  dengan  habitat yang bervariasi. Bagian  tubuh yang  memanjang  secara  seluler  dinamakan  hifa. Hifa  merupakan organ vegetative dari thalus atau miselium yang biasanya tidak dikenal pada jamur yang bukan lichenes. Alga selalu berada  pada bagian  permukaan dari  thalus. Perkembangbiakan lichenes melalui dua cara, yaitu vegetatifdan seksual
c.    Lumut
Batang dan daun tegak memiliki susunan berbeda-beda. Batang apabila dilihat secara melintang akan tampak susunan sebagai berikut selapis sel kulit, lapisan kulit dalam (korteks), silinder pusat yang terdiri sel-sel parenkimatik yang memanjang untuk mengangkut air dan garam-garam mineral; belum terdapat floem dan xilem. Sel-sel daunnya kecil, sempit, panjang, dan mengandung kloroplas yang tersusun seperti jala. Lumut hanya dapat tumbuh memanjang tetapi tidak membesar, karena tidak ada sel berdinding sekunder yang berfungsi sebagai jaringan penyokong. Rizoid seperti benang sebagai akar untuk melekat pada tempat tumbuhnya dan menyerap garam-garam mineral
Reproduksi lumut bergantian antara fase seksual dan aseksual melalui pergiliran keturunan atau metagenesis. Reproduksi aseksual dengan spora haploid yang dibentuk dalam sporofit. Reproduksi seksualnya dengan membentuk gamet-gamet dalam gametofit.
5.2 Saran
            Untuk KKL selanjutnya diharapkan lebih telilti lagi dalam mencari jamur, lichen maupun lumut. supaya kita lebih tau akan keanekaragaman dari tumbuhan tingkat rendah ini.


















DAFTAR PUSTAKA

Birsyam, Inge L. 1992. Botani Tumbuhan Rendah. Bandung: ITB.
Campbell, Neil A.2012. Biologi Jilid 2 Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.
Cabrera C (1996): Materia Medica - Usnea spp. Ear J Herbal  Med2: 11-13
Dwi,Ahmad. 2000. Petunjuk Praktikum Taksonomi Tumbuhan  (Criptogamae). Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Indah, Najmi. 2009.Taksonomi Tumbuhan Tingkat Rendah.Jember :PGRI Jember
Jati, Wijaya. 2007. Biologi. Jakarta: Balai pustaka
Margasatwa Lambusango, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara.  Jurnal Biodiversitas, vol : 8 no 3, hal : 197-203. Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong.
Prawirohartono, Slamet. 1989. Biologi. Jakarta: Erlangga
Sastrahidayat, I. R. 2010. MIKOLOGI Ilmu Jamur. Malang: UB Press.
Semple, J. C. 1999. An Introduction to Fungi, Algae, Plants,2thedition, Pearson Custom Publising.
Suhono, B. 2012. ENSIKLOPEDIA BIOLOGI DUNIA TUMBUHAN RUNJUNG DAN JAMUR. Jakarta: Lentera Abadi.
Tjitrosoepomo, G. 1989. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada

Tjitrosoepomo, G. 2009. TAKSONOMI TUMBUHAN Schizophyta, Thallophyta, Bryophyta, Pteridophyta. Yogyakarta: UGM Press.

Yurnaliza. 2002. Lichenes (Karakteristik, Klasifikasi Dan Kegunaan). Jurusan Biologi Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara
Prawirohartono, Slamet. 1989. Biologi. Jakarta: Erlangga
                        University Press.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar